Minggu, 13 September 2015

ketika rindu menyapa

Tak terasa delapan  bulan telah dilalui yang dahulunya merupakan hal yang menakutkan bagi ku.
Semunya terlewati satu persatu. Ya... namanya juga perjalanan pasti semua rasa ada di dalamnya.
Kisah dibulan Juli hingga bulan Desember terlalu indah. Bagaimana tidak pengalaman seorang mahasiswa yang akan melalui masa prakteknya selama 6 di RS yang berbeda-beda. Berkumpul dengan orang-orang yang sekelas namun tak begitu akrab suatu problem besar. Mengumpulkan banyak pikiran untuk satu ide.
Mulai dari cari kost-kostan, tempat makan, belajar bersama, pembagian tugas, dll.

Pada bulan-bulan awal masih berusaha untuk penyesuaan. Alhamdulillah saya bergabung dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang semangatnya terus bertambah dari hari ke hari. Dan yang jelas orang yang selalu sabar ngadepin tingkah ku. :D :D

ketika semuanya berakhir dibulan desember. Sekarang kita bertiga sibuk dengan kesibukan masing-masing walaupun belum lulus sepenuhnya. Kita bertiga jarang berkumpul. Ha kalian sungguh saya bersyukur bisa membuat kisah dengan kalian. Ku harap kita mampu menghadapi tugas akhir yang satu ini secara sendiri, sendiri. Tak seperti waktu KTI kita selalu berbagi ilmu, bertukar pendapat, dan bertukar semangat.

Aku yakin kita mampu mengahadapi tugas akhir yang satu ini.
Aku yakin ketika kita telah menjadi fisioterapi kisah ini lah yang menarik bagi ku.
 Terimakasih para membimbing di Bantul, Kalasan, Purworejo, Salatiga, Moeardi, dan RSO.
Terimakasih karena kesabaran dan semangat membimbing kita dalam 6 bulan praktek di Lapangan.
Dan khusus nya untuk TIM SAR ak merindukan mu..
Semoga kita mampu berkumpul di surga nanti.



ini kita sebut saja yang jilbab putih andin, lalu saya dan terakhir rizal..
cerita foto ini mau belajar kelompok di daerah jogja karena kita gag satu kost dengan rizal.

Jumat, 11 September 2015

hargailah aku..

Ketika aku berhenti dari penatnya rutinitas hari ini.
Memikirkan kejadian yang telah terlewati untuk satu hari ini.
Dan hari-hari berikutnya..
Seberapa lama aku akan bertahan seperti ini..
Bertahan dengan suara-suara yang membuat hatiku lelah.
Bagi ku raga ini tak menyentuh empuknya kasur tak apa..
Namun jangan saja kalian menusuk hati ku dengan kata-kata yang keluar dari mulut mu itu..
Aku tau kedudukan ku tak sama dengan kalian..
Pendidikan ku tak sama dengan kalian..
Dan harta ku tak sama dengan kalian..
Sungguh dengan senang hati jika raga ku mampu membantu mu dalam pekerjaan sehari-hari.
Namun ketika aku melakukan suatu kesalahan jangan marahi aku tapi beri ak cara yang tepat untuk tidak melakukan kesalahan..
Karena jika hati ini terluka sungguh obat yang terjual di apotek tak mampu menyembuhkannya..
Tapi jika senyum dan teguran hangat mu terlontar dari sikap mu itu lah yang mampu menghapuskan perihnya luka di hati ini.
Mari kita sama-sama belajar untuk saling menghargai, saling mambantu, saling mengingatkan karena bagi ku saat ini kalian adalah salah satu bagian dari keluarga ku.
Walaupun aku tak mungkin bisa masuk dalam bagian keluarga mu.
Karena aku hanya seorang bibik yang siap melayani jika kalian membutuhkan sesuatu.
Bukan orang yang siap untuk kau caci maki.

Dan doa ku..
Ku harap kalian tak  mengalami perihnya hati seperti apa yang ku alami..



*cerita dri seorang pembantu rumah tangga.